selfie, antara masa lampau dan sekarang

R0028500

Sepasang pemuda usia SMP/SMA yang sedang asyik foto selfie dengan salah satu patung diorama di Monas. Foto ini memberikan kejenakaan tersendiri, saat menyertakan patung dalam adegan foto selfie mereka berdua. Demam selfie,yang sepertinya sudah mengglobal, sangat mudah kita temui dalam ruang-ruang publik sekarang. Selfie dapat dilakukan dengan berbagai gaya, salah satunya dengan menambahkan figure patung wanita, cukup inovatif menurutku, kesan jenaka muncul.

Demam selfie ini memang tidak terlepas dari perkembangan teknologi seluler sekarang ini. Baik dengan meningkatnya kapasitas jaringan data sehingga saling berbagi antar sesame pengguna akan sangat mudah. Perkembangan tekhnologi gadget, dengan fitur canggih dan harga yang terjangkau masyarakat luas. Masyarakat luas tidak hanya menyasar para pengguna yang memakainya sebagai alat produktif, misalnya untuk pemakaian kerja. Produk seluler ini masuk juga ke dalam pengguna-pengguna dalam arti sebagai trend atau gaya, atau hal-hal konsumtif lainnya sekadar say hello, saling berbagi foto, obrolan, antar sesama pengguna. Fitur-fitur gadget yang makin canggih, memberikan kemudahan para penggunanya, mulai dari kapasitas memori yang besar, prosessor semakin cepat, hingga kapasitas pixel kamera yang makin lama makin tinggi. Foto selfie akan semakin mewabah dengan fitur dua kamera dalam satu gadget, sehingga pengguna yang memotret dirinya dapat melihat wajah sendiri saat akan memotret. Ini berarti penempatan gaya si pemotret akan lebih leluasa dengan melihat wajahnya sendiri saat proses memotret tersebut.

Dua pemuda berselfie dengan patung diorama sejarah di Monas ini, menarik karena memunculkan kejenakaan tersendiri. Background diorama sejarah dibelakang foto selfie tsb seakan menyatukan dua peristiwa dalam satu momen secara bersama. Momen sejarah memberikan jangkauan pandangan ke belakang, peristiwa budaya yang berlangsung dimasanya. Sedangkan momen selfie menjadi pijakan era modern sekarang sebagai peristiwa budaya modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi, yang secara global dipakai oleh masyarakat luas, diwakili oleh kedua pemuda tersebut. Satu frame foto, memuat kedua momen sejarah dalam satu kesatuan. Ini menurutku yang menarik dari foto ini.

Advertisements

tangga cahaya Monas

R0028315

Saya suka dengan foto ini, saat orang-orang berbondong masuk ke dalam cangkang rumah Monas, Jakarta. Mulai dari anak-anak, pemuda-pemudi, dan orang tua setengah umur, bergegas masuk dengan segala energi mereka. Ini mungkin pengalaman pertama bagi mereka, mengunjungi cangkang rumah Monas yang di dalamnya ada sebuah museum sejarah Indonesia. Diorama peristiwa-peristiwa sejarah Indonesia bisa secara lebih dekat dapat dilihat di sini. Untuk yang meneruskan melihat Jakarta dari ketinggian, bisa naik lift ke puncak Monas.

Cahaya terang yang menyinar dari belakang memberikan suasana yang lebih artistik, menurutku. Shutter lambat dikarenakan intensitas cahaya yang kurang, memberikan efek seakan-akan manusia yang bergerak secara cepat lewat tangga yang menurun. Seorang ibu, mencoba untuk memegang tangan anaknya, yang sepertinya pengin cepat untuk segera turun tangga tersebut. Dua orang pemudi, masih asyik berbicara, memberikan nuasa kedekatan diantara keduanya. Yang lain seperti begerak secara acak, menembus lintasan cahaya, wajah-wajah yang tidak tampak karena efek shutter lambat, meskipun begitu tetap asyik melihatnya. Dinding-dinding sebagai pembatas tangga, memberikan effek layak tunnel yang mengarahkan cahaya dan manusia ke dalam satu arah yang sama, dalam gerak acak satu sama lain.

Monas menurutku menjadi suatu tempat yang menarik untuk terus dieksplore, secara mata kamera. Bagaimana manusia berkumpul dan interaksi mereka di dalamnya. Interaksi manusia dan lingkungan di Monas, dan lingkungan itu sendiri dipandang sebagai suatu entitas yang berdiri sendiri sekaligus ada dengan interaksinya manusia di dalamnya.

*agustus2015