di Pasar Baru….sunyi disekitarmu

Ke Pasar Baru, dan saya menemukan ini. Pertemuan manusia, bangunan-bangunan tua, pepohonan, dan lintasan gambar2 tempelan. Merasakan sebuah kesunyian. Lorong-lorong jalan yang kosong, sinar terik matahari, bayang-bayang pantulan yang mandeg, membuyarkan ringkik keramaian di seberang sana yang hiruk pikuk.

Di setiap keramaian, di saat itu kesunyian berdetak.

Read more of this post

Advertisements

Frame – Pademi

Terkadang memusingkan pada frame2 foto yang telah saya tangkap. Ada hal2 yang terasa kurang, dan saya coba untuk melihatnya kembali, sekedar melihat di kedalaman detail meskipun hanya sekejap. Akhirnya saya bilang, jangan terlalu repot untuk memusingkannya. Setiap tampilan dari foto yang telah saya dapatkan, adalah kesenangan untuk memencet shutter kamera. Melihat pada kotak viewfinder, dengan langkah tetap tanpa sekalipun berhenti. Memang, seakan sebuah jarak yang tak mungkin di jembatani. Antara aku, kamera, dan setiap objek yang tertangkap. Dan sekali lagi, jarak adalah sebuah kesenangan. Seperti kaum borjouis yg merentangkan dirinya berbeda dari fenomen sekitar, sama. Hal itu sama, dengan apa yang telah saya lakukan. Ini mungkin keegooan kaum borjuis.

Akhirnya saya ingin merelakannya. Merelakan apa yang saya dapatkan dari foto tersebut apa adanya. Mungkin agak sedikit aneh. Karena setiap hal seakan tidak habis kita kritik, terus menerus. Kesempurnaan menjadi patokan. Meskipun sampai sekarangpun saya tidak memahami apa itu kesempurnaan. Yang ada mungkin pademi pop akan sebuah style yang lagi ngetrend. Peniruan massal. Dan menurutku ini adalah pembunuhan ego besar-besaran. Dirimu di matikan, tanpa sebuah kesadaran. Tidak ada keunikkan. Hanya massalisasi masif yang begitu memprihatinkan. Sebab sejak awal dirimu tidak identik dengan massa. Memang, kematian menjalar. Pademi.

Read more of this post

kaki melangkah

Banyak foto kaki yang saya ambil, dan ingin saya perlihatkan beberapa di blog ini. Kenapa kaki ? Karena mengambil foto kaki lebih mudah, daripada harus mengambil foto wajah, misalnya. Karena setiap tatapan mata serasa mematikan. Itulah yang saya takutkan…. :)

Pernah sebelumnya, di blog saya yg lain, saya upload beberapa foto dalam rangka “Project Jalan”. Saya coba mengabadikan lalu lalang manusia, di bandara dan terminal bus, dalam gerak kaki2 mereka di balutan warna hitam putih. Secara pribadi, menurutku project ini sangat mengesankan. Saya melihat bahwa gerak, manusia, adalah satu. Bukan hanya itu, saat kaki bergerak, hidup serasa muncul dengan sendirinya. Ada gerak maju, yang tidak saya mengerti sebagai representasi manusia yg terus menerobos batasan tubuhnya yg terbatas. Akhirnya nilai estetika saat kaki melangkah, membuncah. Ini yg saya senangi.

-alan-

Read more of this post

pinggir sungai Kemayoran

Saya share foto-foto rumah di pinggiran sungai/kali Kemayoran ini. Mungkin foto2 ini sudah bisa menceritakan, lebih dari apa yang bisa saya ungkapkan lewat tulisan.

Seakan saya melihat lukisan mural yang banyak di gambar di tembok2 di pinggir jalan. Coretan yang penuh warna, antara kontras-kontras yang tersaturasi dengan pantulan cahaya matahari di tembok dan atap rumah, menambah nilai kontrasnya. Kayu yg telah pudar warna coklatnya, seng yg bekarat, pakaian2 yg di jemur, kabel listrik yang melintang, cor-coran lantai, pada satu titik begitu unik, kompleks.

-alan-

Read more of this post

sungai Kemayoran….terlupakan dan tersisih

Ini adalah sedikit foto2 sungai di Kemayoran. Saya ambil saat kemarin jalan di sana. Ada sebuah keinginan, yg mungkin sampai sekarang belum terlaksana secara penuh, yaitu mem-foto sungai-sungai yang berada di Jakarta. Dan mungkin kemalasanlah yg mengakibatkan project pribadi ini, sampai sekarang tidak jalan. Sebelumnya di blog ini, pernah saya upload juga untuk sungai yang berada di Pasar Minggu. Moga dengan tambahan sungai di Kemayoran ini bisa memberikan sedikit permaaf-an dari hal yang belum saya lakukan tersebut. :)

Terus terang, saya tidak pernah melakukan studi pustaka mengenai sungai2 di Jakarta. Hanya mungkin sudah di ketahui, bahwa sungai saat masa klasik, yaitu saat pemerintahan kerajaan Pasundan hingga masa VOC Belanda, memiliki arti penting. Sungai menjadi penghubung antara pesisir dan pedalaman. Arus manusia, barang dagangan dan kebutuhan lainnya, dapat tersalurkan lewat transportasi sungai ini. Hanya sekarang, media ini tidak lagi di gunakan. Jalan2 beraspal menjadi pengganti sungai, dan sungai menjadi terpinggirkan. Malah menjadi ancaman. Seperti di saat musim penghujan, air yang tidak sepenuhnya lancar menyebabkan banjir, membuat susah para warga di sekitar yg terkena luapan air ini.

Tidak hanya itu, sungai kini menjadi tempat buangan. Sampah mengambang di sepanjang sungai ini. Membuat pemandangan menjadi tidak mengenakkan, dan bau menusuk ke hidung apabila sampah tersebut membusuk. Limbah2 rumah tangga dan mungkin industri masuk ke dalam aliran sungai juga. Mengakibatkan sungai makin keruh, berwarna, dan berbau. Ikan2 dan makhluk hidup lainnya sulit hidup di dalamnya. Memprihatinkan. Butuh beberapa generasi mungkin nantinya sehingga masyarakat akan mencintai sungai. Memelihara sungai tersebut, dan menjadi aset yang sehat dan dapat di banggakan.

Sungai di Kemayoran ini di apit oleh arteri besar jalan dan perumahan padat. Di kejauhan dapat kita lihat juga, gedung2 tinggi yaitu apartment dan mall perbelanjaan. Tidak jauh pula, terdapat pasar tradisional tepat di tepinya. Begitu ramainya manusia hilir mudik baik di jalan raya, pasar, perumahan, pusat perbelanjaan. Di sekitaran daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat. Hanya sesaat melihat ke dalam sungai ini, seakan saya memasuki sebuah kesunyian yang dalam. Air tenang mengalir tenang menuju ke hilir, pantulan2 objek di sekitar menyembul kepermukaan air. Plastik, kertas, mengambang, hanyut. Saya lihat pantulan bayang tubuh saya dalam background warna keruh sungai. Beberapa pekerja tampak dengan rakit bambunya sedang membersihkan sampah. Memisahkan sampah mana yang masih bisa di jual di loakan. Sungai yang terlupakan dan tersisih.

-alan-

Read more of this post

Gerak Kemayoran

Berjalan di sekitaran daerah Kemayoran. Begitu banyak hal unik yang tetap saya temui dari setiap jalan-jalan di Jakarta ini, dimanapun itu. Yang adalah sebuah keberuntungan dapat saya tangkap melalui lensa kamera analog. Terkadang baru saya sadari saat foto tsb tercetak, dan saya amati satu persatu. Dari tatapan wajah, gerak tubuh, pakaian, lingkungan baik itu sungai, rumah, jalan, hingga iklan2 yg memotret wajah para artis. Deru manusia, alam, dan teknologi dalam representasi mesin, seakan bergerak begitu nyata tak terbendung. Tetapi dalam deru tersebut, tetap tampak bahwa manusia memiliki gerak spesial. Wajah, gerak tubuh mereka, adalah hal terbaik yang bisa saya lihat dan selami.

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana manusia dapat di lepaskan dari sebuah gerak dan arti kerja dalam kehidupannya. Hanya kerja di sini tidak di sempitkan dalam kerja sebagai instrumen produktivitas materi dalam kerangka Marx. Bagaimana gerak dan kerja, merupakan instrumen bagi dirinya sendiri, mungkin dalam bentuk permainan, hal tak bertujuan, atau sarana hiburan dan kesenangan, atau malah hal2 kegilaan misalnya. Di saat itu sepertinya manusia menjadi subjek yg akan lulus dalam kungkungan penjara tubuh, pikiran dan alam lingkungannya. Kebebasan menurutku adalah suatu bentuk kesucian, sebuah ritual untuk memurnikannya, dan sebuah ujud yg musti di rebut. Butuh kesadaran tersendiri untuk masuk ke sini sepertinya.

-alan-

Read more of this post

di Mei di Jembatan Item

Ada hal di mana saya kembali dan kembali lagi ke pasar barang bekas ini. Tidak tahu mengapa, ada ketertarikkan pribadi, sebuah panggilan mungkin, sehingga pengin terus kembali dan masuk ke dalam ramai aktivitas di pasar ini. Dan memang, setiap sudut dari pasar ini, sanggup memberikan gambaran lain dari suatu pasar. Dari waktu ke waktu, kekayaan gambaran seakan terus terbaharui, mengugah kesenangan tersendiri untuk sekedar hadir, sebentar, dalam ramai bersinggungan antar manusia di sana.

Tidak ada bangunan permanen di pasar ini. Beberapa petak kios di buat dari kayu, yang tersekat-sekat antar sesama pedagang. Lainnya, hanya mengelar lapak plastik di jalanan dan menyusun barang dagangannya sehingga calon pembeli dapat melihat-lihat, dan apabila cocok bisa langsung membeli. Barang-barang elektronik bekas, baju-baju, barang seni seperti lukisan, patung, dan buku, tergelar menunggu untuk mendapatkan tawaran harga. Di sela-sela itu penjual-penjual makanan, es, dan berbagai makanan camilan, hadir juga. Apabila lapar dan haus, dapat mampir sebentar.

Hal yang menarik, dari sebuah pasar barang loak adalah, seakan suatu barang tetap mempunyai harga dalam minimal fungsi yang bisa di tawarkannya. Meskipun mungkin banyak yang mengatakan bahwa barang tersebut sudah tidak berharga sama sekali, tetapi di dunia yang lain, banyak juga yang masih berkeyakinan utk menawarkannya, dan mungkin saja ada yang mau membeli. Suatu peluang, yang di landasi dengan keyakinan besar, daya juang yang tinggi rasanya. Menunggu bahwa barang ini masih di butuhkan oleh orang lain. Menunggu sehingga dpt dipertukarkan dengan uang, kerangka menyambung hidup.

Beberapa kali saya mendapatkan bahwa pasar ini akan terkena gusur. Beberapa kios kayu yang dulu rapat di pinggir sungai, terkena penertiban. Kena gusur, sehingga pedagang musti memindahkan barang2 dagangan mereka. Hanya, seakan pasar ini tidak pernah dapat di redupkan. Bangunan2 temporer dari kayu muncul kembali, pasar tetap ramai. Kekuatan hidup tdk bisa di matikan begitu saja. Pasar meluas, hingga melebar ke jalan2 besar yang berada di sekitaran area Jembatan Item ini. Dan dari penglihatan saya, pasar ini tidak memberikan impact pada kemacetan meskipun telah melebar dan meluber ke jalanan besar.

Inilah sedikit foto yang saya ambil di pasar barang bekas Jembatan Item, di bulan Mei 2012.

-alan-

Read more of this post