Frame – Pademi

Terkadang memusingkan pada frame2 foto yang telah saya tangkap. Ada hal2 yang terasa kurang, dan saya coba untuk melihatnya kembali, sekedar melihat di kedalaman detail meskipun hanya sekejap. Akhirnya saya bilang, jangan terlalu repot untuk memusingkannya. Setiap tampilan dari foto yang telah saya dapatkan, adalah kesenangan untuk memencet shutter kamera. Melihat pada kotak viewfinder, dengan langkah tetap tanpa sekalipun berhenti. Memang, seakan sebuah jarak yang tak mungkin di jembatani. Antara aku, kamera, dan setiap objek yang tertangkap. Dan sekali lagi, jarak adalah sebuah kesenangan. Seperti kaum borjouis yg merentangkan dirinya berbeda dari fenomen sekitar, sama. Hal itu sama, dengan apa yang telah saya lakukan. Ini mungkin keegooan kaum borjuis.

Akhirnya saya ingin merelakannya. Merelakan apa yang saya dapatkan dari foto tersebut apa adanya. Mungkin agak sedikit aneh. Karena setiap hal seakan tidak habis kita kritik, terus menerus. Kesempurnaan menjadi patokan. Meskipun sampai sekarangpun saya tidak memahami apa itu kesempurnaan. Yang ada mungkin pademi pop akan sebuah style yang lagi ngetrend. Peniruan massal. Dan menurutku ini adalah pembunuhan ego besar-besaran. Dirimu di matikan, tanpa sebuah kesadaran. Tidak ada keunikkan. Hanya massalisasi masif yang begitu memprihatinkan. Sebab sejak awal dirimu tidak identik dengan massa. Memang, kematian menjalar. Pademi.

Advertisements

About urbantrain
Capturing Jakarta city-Indonesia with my analog photo. Enjoy it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: