sisa Pilkada Jakarta

Pilkada Jakarta menyisakan tempelan2 dinding, spanduk beraneka, iklan kertas koran, dan pastinya akan menjadi sampah. Hanya sebelum menjadi sampah, barang yang terbuang, ada baiknya kita nikmati dahulu. Menjadi sebuah kolase-kolase natural thd ekspansi alam terhadapnya.  Tidak banyak yang ingin kutuliskan, semuanya sudah terangkum di dalam gambar foto2 ini. Saya yakin, apa yang saya foto bisa memperlihatkan sebuah hal yang baik, apa adanya itu. Semoga.

Read more of this post

melewati rel

Rel kereta menjadi tak bermakna saat puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali, kaki menjejak di atasnya. Sebuah pengalaman yang tanpa arti. Rutinitas berulang, yang tanpa henti, meninju2 pada kesadaran yang kian hari kian melemah pada rel kereta ini. Dan saat kebermaknaan hilang, seakan sekumpulan perampok telah merampas arti itu. Sebuah kehilangan yang tak kita sadari, tercerabut begitu saja. Menguap, entah. Perampok-perampok itu begitu pintar ternyata. Merampas melewati kesenyapan sehari-hari yang kita lalui. Kesenyapan dari setiap detik yang tidak kita mengerti dari keseharian yang berjalan begitu saja. Suatu ketika saat kesadaran itu datang, kita tidak lagi ingat, bahwa rel itu dahulu menjadi sandingan keseharian kita. Sandingan yang tersingkir, dari jejak perjalanan kita.

Ini adalah rel-rel di Kampung Bandan, di Jakarta Kota. Manusia melewatinya, pagi, siang, malam. Batas-batas antara kehidupan pribadinya, yg begitu senyap, dengan hiruk pikuk kota yang begitu bising. Seakan inilah batas imajiner yang muncul, setelah kita berusaha melewatinya. Saat kaki terangkat, saat balok-balok beton terinjak, saat batang2 besi dengan terjinjit2 kita lampaui, batas ini muncul. Begitu mengagetkan memang, saat batas ini muncul di luar kesadaran keseharian kita.

Bila batas-batas imajiner itu datang, apakah mungkin mereka dapat bedakan antara kebisingan dan kesenyapan itu dengan segera ? Antara duniaku dan bukan duniaku. Antara diriku dan hiruk pikuk bising di sana ? Mungkin suatu saat aku merasakan sebuah batas, dan satu sisi pula, aku tidak merasakannya. Pengalaman kesadaran, antara ya dan tidak.

Read more of this post

Subuh Pasar Minggu

Ingin share mengenai pasar di Pasar Minggu di waktu subuh. Setiap moment subuh ini begitu mengesankan rasanya. Hawa subuh dingin menjadi berkurang dinginnya, saat tubuh-tubuh yang bekerja dengan sendirinya menghangatkan. Keringat yang keluar tak terasa membasahi tubuh-tubuh yg bekerja. Badan menjadi segar, dan semangat kini bertambah. Lampu-lampu neon putih, dengan bolam berwarna kuning, membuat subuh yang masih gelap terasa begitu benderang dan berwarna cerah. Bayang-bayang para pedagang dan pembeli membaur. Transaksi berjalan begitu saja. Melupakan dingin, dan gelapnya subuh.

Sayuran menjadi barang utama yang di perjualbelikan. Sampah bertebaran,terinjak-injak, dan saat pagi nanti, petugas akan membersihkannya. Begitu banyaknya sampah. Menggunung, apabila di kumpulkan dari aktivitas subuh itu. Bayangkan, bila seluruh sampah pasar di Jakarta di kumpulkan. Berton-ton akan terkumpul dan siap masuk ke penampungan sampah terakhir.

Dan lalu lalang mobil, motor, tidak henti-hentinya. Berjejer motor terparkir di pinggir2 jalan.Beberapa menunggu sendiri motor mereka, lainnya meninggalkannya dengan penjagaan tukang parkir. Metro mini beroperasi 24 jam. Membawa penumpang, masuk dan keluar dari Pasar Minggu ini. Angkot dan mobil-mobil pribadi, seakan tiada hentinya. Lampu sorot yang begitu terang, terkadang menyilaukan menghalangi mata untuk melihat.

Beberapa terlihat masih terkantuk-kantuk. Sepertinya tenaga mereka telah terkuras, memulai aktivitasnya dari tengah malam. Hingga saat subuh, tak terkira penat mereka. Kantuk melanda, dan menyenderkan tubuh mereka sesaat. Terlelap dalam tidur. Dan subuh begitu cepat. Matahari seakan tidak ingin lama menunggu untuk timbul dan memancarkan cahaya egonya. Pasar di Pasar Minggu.

Read more of this post

Mural Trans TV Tendean

Mural-mural di sekitar Trans TV, Tendean Mampang, Jakarta.

Read more of this post

di Pasar Baru….sunyi disekitarmu

Ke Pasar Baru, dan saya menemukan ini. Pertemuan manusia, bangunan-bangunan tua, pepohonan, dan lintasan gambar2 tempelan. Merasakan sebuah kesunyian. Lorong-lorong jalan yang kosong, sinar terik matahari, bayang-bayang pantulan yang mandeg, membuyarkan ringkik keramaian di seberang sana yang hiruk pikuk.

Di setiap keramaian, di saat itu kesunyian berdetak.

Read more of this post

Frame – Pademi

Terkadang memusingkan pada frame2 foto yang telah saya tangkap. Ada hal2 yang terasa kurang, dan saya coba untuk melihatnya kembali, sekedar melihat di kedalaman detail meskipun hanya sekejap. Akhirnya saya bilang, jangan terlalu repot untuk memusingkannya. Setiap tampilan dari foto yang telah saya dapatkan, adalah kesenangan untuk memencet shutter kamera. Melihat pada kotak viewfinder, dengan langkah tetap tanpa sekalipun berhenti. Memang, seakan sebuah jarak yang tak mungkin di jembatani. Antara aku, kamera, dan setiap objek yang tertangkap. Dan sekali lagi, jarak adalah sebuah kesenangan. Seperti kaum borjouis yg merentangkan dirinya berbeda dari fenomen sekitar, sama. Hal itu sama, dengan apa yang telah saya lakukan. Ini mungkin keegooan kaum borjuis.

Akhirnya saya ingin merelakannya. Merelakan apa yang saya dapatkan dari foto tersebut apa adanya. Mungkin agak sedikit aneh. Karena setiap hal seakan tidak habis kita kritik, terus menerus. Kesempurnaan menjadi patokan. Meskipun sampai sekarangpun saya tidak memahami apa itu kesempurnaan. Yang ada mungkin pademi pop akan sebuah style yang lagi ngetrend. Peniruan massal. Dan menurutku ini adalah pembunuhan ego besar-besaran. Dirimu di matikan, tanpa sebuah kesadaran. Tidak ada keunikkan. Hanya massalisasi masif yang begitu memprihatinkan. Sebab sejak awal dirimu tidak identik dengan massa. Memang, kematian menjalar. Pademi.

Read more of this post