Kebon Kacang sampai Tanah Abang (2)

Memasuki kepadatan perumahan dan melihat ke atas, sulur-sulur kabel PLN selalu menarik perhatian saya. Sulur-sulur menjadi ornamen lain dari background langit yang semula adalah monoton dari warna biru atau putih awan. Sekarang, larik2 hitam, sulur-sulur kabel PLN menjadi variasi dari kemonotonan itu. Menjadi noktah-noktah bergaris silang menyilang, mencoret-coret kekakuan latar yang datar.

Seakan gambaran alam yang di identikan gambaran langit, ternodai secara apik oleh gambaran olah manusia, yaitu sulur2 kabel PLN. Olah kerja manusia, yang tidak beraturan, seolah menjadi gambaran kerja alam yang perlahan kemudian bertambah terus bertambah tanpa sebuah perencanaan. Gambaran silang menyilang, tak beraturan, menjadi bukan lagi identik olah manusia, sekarang menjadi gambaran kerja alam.

Modernitas mungkin awal dari gambaran ini. Bagaimana listrik di temukan, menjadi kebutuhan, dan sulur2 kabel PLN ini kemudian di tarik menjadi media untuk menyalurkan energi kebutuhan tersebut. Maka manusia secara tidak langsung ikut mempengaruhi alam. Alam di rekayasa, alam di eksplorasi, eksploitasi, dan alam memperlihatkan penampakkannya dari singgungan dengan manusia tsb. Semakin bertumbuhnya masyarakat, penambahan jumlah penduduk, alam ikut pula berubah. Dan mungkin tanpa manusia pun, alam akan berubah. Hanya perubahan yang saya gambarkan ini adalah gambaran resultansi dari singgungan ini. Dan saya melihat singgungan ini, saat memandang langit saat siang ke Tanah Abang.

-alan-

Read more of this post

Kebon Kacang sampai Tanah Abang (1)

Saya menyempatkan untuk jalan-jalan di sekitaran Pasar Tanah Abang. Salah satu pasar terbesar, sekaligus tersibuk di Jakarta Pusat ini. Ini pengalaman pertama, karena sekalipun belum pernah ke pasar ini. Meskipun mungkin beberapa kali melewatinya saat naik motor atau saat bus kota. Tetapi secara langsung, masuk ke pasar ini belum pernah sama sekali.

Saya bawa kamera kecil analog, dengan beberapa roll film expired yang saya letakkan di tas hitam samping kecil. Roll film expired ini ber-ASA 400, dan hasilnya filmnya setelah di cuci dan di scan agak “over” cahaya. Seperti terbakar. Memang asa 400 ini, terlalu sensitif cahaya, apalagi karena juga sudah expired. Tetapi tidak mengapa. Hasilnya masih bisa di nikmati, dan saya masukkan ke blog ini.

Saat memulai jalan, harinya begitu panas sekali. Matahari begitu terik, menyengat, dan kulit seperti terbakar setelah beberapa saat panas matahari itu mengenai kulit. Naik busway dari Blok M, sampai di depan Plaza Indonesia. Dari Plaza Indonesia, saya lewat jalur perumahan Kebon Kacang, terus hingga tembus ke Tanah Abang. Sekitaran Plaza Indonesia, bisa saya lihat kepadatan manusia, rumah, dan kendaraan sebagai imbas ruang umum mall tsb. Tempat makan dengan menu murah, menyemut di area ini. Kendaraan2 roda dua, ratusan terparkir di sekitaran mall. Karena sepertinya mall tidak memberikan ruang parkir di dalam gedung mall. Parkir di dalam mall hanya di peruntukkan bagi roda empat. Lahan yang seharusnya sebagai jalur jalan, terpakai seperempatnya untuk kios2 makan dan parkir roda dua. Jadi bisa di bayangkan, hal ini bisa menimbulkan kemacetan bila tidak di atur.

Jalan terus di daerah Kebon Kacang ini, melewati perumahan kalangan menengah atas, dengan jalan beraspal hotmix, teratur dan rapi. Rumah-rumah kotak, dengan sekat-sekat tembok dan pagar besi yang kuat. Terkadang gang-gang sempit, seperti alur-alur kecil yang keluar dari jalan besar yang berliku panjang masuk ke dalam. Rumah2 dengan luasan super kecil menghuni di didalam gang-gang sempit ini.

Agak sedikit kontras, bahwa antara rumah2 yg tergolong besar bercampur dengan rumah2 kecil yang nyempil di gang-gang sempit itu. Tetapi pemandangan ini bukan semacam kekusutan. Karena area ini lumayan rapi dan bersih. Sehingga mata, bisa memandangnya dengan suasana nyaman. Tetapi di daerah padat, di dalam kota, ruang bebas menjadi hal yang langka. Tak saya temui, misal lapangan, atau taman bermain di area ini. Jadi bisa di bayangkan, bahwa ruang2 untuk bermain anak, akhirnya terkonsentrasi di jalanan atau mereka bermain di dalam rumah.  Suasana kebersamaan untuk berkumpul antar warga seakan mati,  dengan kondisi ini.

Read more of this post

Kaki lima Stasiun Jatinegara

Kaki lima di depan Stasiun Jatinegara yang begitu padat dan riuh. Pedagang2 yang mempersiapkan jualan mereka, berbaur dengan para pejalan kaki yang terkadang berhenti untuk melihat sebentar dagangan mereka. Lalu lintas yang begitu padat, menambah keriuhan yang ada. Asap gas pekat warna hitam, yang menyesak hidung, berkeliaran membunuh perlahan-lahan orang2 ini, keluar dari knalpot2 mesin motor, dengan suara berdenging di telinga. Sore yang tidak terlalu cerah. Mendung mengelanyut malas di angkasa. Tak memedulikan keinginan matahari sore untuk memancarkan sinar merah cerahnya.

Read more of this post

Thamrin – Kebon Sirih, pagi itu

Berjalan di sekitaran Thamrin – Kebon Sirih. Pagi, di sela-sela kesibukan orang2 berangkat kerja, deru motor dan mobil yang menambah bising udara, hanya pagi itu terasa begitu hangat dan segar. Ada semangat untuk memotret sekitaran area ini dengan kamera analog-ku. Meskipun detil-detil dari gambar ini tidak bisa memberikan nuansa sesungguhnya dari apa yang aku rasakan pagi itu, tetapi lumayan bisa sedikit membagikan nuansa Jakarta dan sedikit dari apa yang aku pandang.

Image Read more of this post