Stasiun Depok Baru

Puluhan kali saya melewati stasiun ini. Dan sejak beberapa tahun kebelakang, stasiun ini seakan tetap seperti semula. Tidak ada yang berubah baik dari bentuk bangunan, sirkulasi penumpang di stasiun, tempat2 pedagang berjualan, hingga aksesnya menuju ke jalan besar. Mungkin yang bertambah adalah, adanya mall besar tepat di depan stasiun, yang membuka aksesnya juga menuju ke stasiun.

Apabila di lihat lebih seksama, stasiun ini adalah stasiun ideal yang bisa saya gambarkan. Antara stasiun, terminal bus & angkot, pusat perbelanjaan/perdangangan, dan akses ke dalam kota Depok berada pada area yang sama. Begitu juga antara poros Bogor – Jakarta, stasiun ini berada di tengah2nya. Sehingga sebenarnya sudah selayaknya bila stasiun ini harus di kembangkan, dan di bangun menjadi stasiun besar ke depannya. Yang dapat mengangkut ribuan hingga jutaan penumpang setiap harinya.

Beban Jakarta untuk menampung para pendatang yang berjumbel mengais rejeki, seakan sudah tidak mampu lagi menampung pada batas normalnya. Kepadatan jalan raya sudah melampui beban jalan yg ada. Tumbuhnya perumahan2 dan gubuk2 di bawah standar semakin memperkeruh Jakarta sebagai megapolitan ke depannya. Mungkin salah satu solusi adalah mengembangkan kota-kota satelit di sekitar Jakarta, seperti kota Depok ini. Tetapi dengan minimnya infrastruktur, yg di dapat malah bukan solusi yang layak. Terciptakan problem2 baru yang semakin berat, sebagai contoh masalah transportasi ini.

Pada hari-hari kerja biasa, kondisi stasiun begitu berjubel dengan ribuan manusia yang ingin terangkut menuju ke tujuan baik ke arah Bogor menuju Jakarta. Penumpang berjumbel, saling dorong, dan himpit2an di gerbong kereta yang memang terbatas. Terkadang, kecelakaan tidak bisa di hindari. Penumpang yang duduk tepat di pintu yang tidak bisa di tutup, terlempar keluar karena desakan dari dalam. Atau sering kali terjadi pelecehan seksual, karena begitu dekatnya antara penumpang laki2 dan perempuan. Kaum hawalah yang akhirnya mendapatkan kerugian di sini. Dan salah satu yang sampai sekarang tidak bisa di tertibkan adalah penumpang yang naik sampai ke atap gerbong. Disamping karena keterbatasan tempat di dalam gerbong, juga karena ketidak tertiban mereka untuk menggunakan alat transport ini sebagai mana mestinya. Akibatnya sungguh begitu mengenaskan. Beberapa terjungkal dari atas, karena tidak berhati2. Dan beberapa lainnya musti terpanggang kena strum tegangan listrik yang tinggi.

Para investor swasta sepertinya lebih menyukai untuk membangun jalan2 tol, karena secara hitungan matematis akan untung lebih cepat dan lebih besar. Hanya akan tetap, problem transportasi di Jakarta tidak akan pernah mendapatkan solusi yang memadai. Titik pangkal problem tidak pernah di utak-utik, karena memang tidak menguntungkan. Inilah PR kita bersama sebagai warga negara untuk memikirkan hal ini. Tanpa sebuah kesadaran berbangsa yaitu mengutamakan kepentingan yg lebih luas, daripada sekedar keuntungan financial yang cepat dan besar, kepetingan publik akan tetap terabaikan.

 

Advertisements

About urbantrain
Capturing Jakarta city-Indonesia with my analog photo. Enjoy it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: