Buku Pandi – Depok Baru

Saya mendapat kiriman sms dari Pandi. Dia mengabarkan kalo koleksi buku2nya bertambah, dan saya di minta ke kios bukunya apabila ada yang menarik minat untuk di beli. Maka sore itu saya bergegas, naik kereta listrik ekonomi dari Pasar Minggu menuju stasiun Depok Baru.

Sore itu hari agak temaram. Di samping sudah sore, sedikit mendung masih mengelanyut di kota Depok. Kereta listrik atau KRL yang saya tumpangi tidak begitu penuh berjejal, karena hari itu sabtu. Saya masih ada kesempatan untuk memotret suasana di dalam gerbong kereta. Nanti mungkin saya ceritakan di lain kesempatan. Stasiun Depok masih ramai. Pedagang2 masih ramai, menunggu barang2 dagangan mereka di beli para penumpang. Bermacam-macam barang dagangan dapat kita temukan di sini. Apabila cocok, di beli. Kalo tidak hanya untuk pemanis di mata.

Penumpang pun seperti arus yang tiada kenal henti. Puluhan turun, dan puluhan kemudian naik. Anak2 kecil bergerombol. Terkadang mereka naik bergegas. Naik ke atas atap kereta seperti monyet2 kecil yang asyik bermain di dahan pohon. Ibu2 mengandeng anaknya. Jangan sampai terlepas, dan sulit di temukan kembali. Bapak2 membawa bakul2 atau tentengan barang. Sepertinya dagangan2 yang di coba di sirkulasikan ke daerah kota sana.

Kios buku Pandi tidaklah besar. Kios ini berada di sepanjang kios2 di stasiun Depok Baru di sebelah dalam. Ukurannya bujur sangkar, sekitar 3×3 meter. Penuh berisi buku, mulai dari majalah-majalah populer musik, perumahan, olah raga, kuliner, fotografi, dll. Novel2 indonesia dan asing, buku2 pegangan mahasiswa seperti teknik, psikologi, ekonomi, arsitektur, dan beragam yang lain. Buku2 umum yang bisa di dapatkan dengan harga miring, karena memang buku bekas. Yang pasti dapat di tawar dengan harga yang wajar.

Karena memang sudah lama kenal, kami ngobrol sebentar. Biasanya saya tanya dia mengenai buku2 yang memang sedang saya cari. Apabila sekarang buku tsb tidak ada, di lain kesempatan mungkin dapat. Dia akan menginformasikan apabila buku yang saya cari di dapatnya. Buku yang biasanya saya cari adalah buku filsafat atau mengenai fotografi. Dulu masih banyak buku2 mengenai 2 tema ini. Tetapi belakangan, semakin sulit mendapatkannya. Kecuali mungkin ada beberapa kolektor, atau peminat buku yang sudah lanjut, setelah mereka meninggal buku2nya akhirnya di lego oleh keluarga mereka.

Selain di stasiun Depok Baru ini, Pandi mempunyai 2 tempat lagi di mana dia berjualan buku. Di Blok M Square, yang sekarang adalah pusat penjualan buku-buku bekas di lantai basement, dan di stasiun Tebet. Dia menjalankan bisnis buku ini di bantu oleh beberapa rekannya. Hanya saya tidak begitu detil menanyakan bagaimana pembagian kerja dan keuntungannya. Pastinya mereka bergilir untuk menjaga ke-3 tempat jualan buku ini. Dia juga pernah berjualan di stasiun Pondok Cina Margonda, sekitar kampus UI dan Gunadharma. Tetapi akhirnya dia menutup kiosnya, karena kalah bersaing dengan kios lain yang memiliki modal lebih besar. Lebih baik mengalah untuk mencari daerah lain, dimana secara kompetisi masih longgar.

Buku2 yang dia dapatkan beberapa memang diperoleh dengan mencari sendiri langsung ke perumahan2 apabila memang si pemilik mau menjualnya. Dan beberapa di peroleh dari orang2 yang langsung datang, untuk menjual beberapa buku miliknya. Buku2 yang menjadi pegangan mahasiswa, novel2 populer, biasanya juga sudah di pesan oleh para penjual di daerah Kwitang. Jadi seperti sebuah jaringan yang begitu luas antar para pedagang ini. Yang saling berkaitan, untuk sama-sama mengais rejeki dari bisnis berjualan buku ini.

Beberapa calon pembeli tampak membolak balik, dan memilih buku yang mereka butuh dan inginkan. Konsen dengan tema2 yang menarik perhatian mereka, dengan membaca beberapa kalimat, melihat visual di dalamnya, dan mendapatkan ketertarikan dari susunan kata dan gambar secara langsung. Dan mereka pun mendapatkan keuntungan, dengan melihat isi dalam buku itu secara langsung. Lihat saja sekarang, di toko2 buku besar, buku sudah tertutup oleh bungkus plastik. Calon pembeli menjadi tidak leluasa untuk melihat isi buku tsb, karena dilarang untuk membuka tutup plastiknya. Jadi terkadang membeli buku di toko besar, adalah gambling. Resikonya di ambil sendiri, apabila sisi bukunya tidak sesuai keinginan. Harga di sini bisa di tawar, sehingga dapat harganya sungguh miring.

Saya mendapatkan beberapa buku yang saya inginkan. Kemudian saya pulang, balik memakai kereta kembali ke arah Pasar Minggu.

Advertisements

About urbantrain
Capturing Jakarta city-Indonesia with my analog photo. Enjoy it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: