9 Gereja – Jakarta (1)

Kami menuju ke gereja Blok B sekitar jam setengah 9. Ini adalah gereja mingguan kami, meskipun secara wilayah kami masih masuk ke gereja blok-Q. Mengapa kami jarang misa mingguan di gereja Blok-Q adalah karena semprotan AC (Air Condition) di gereja ini terlalu keras. Rasanya menusuk tulang, dan kami tidak mempunyai akses alat remote untuk menurunkan suhu di AC ini. Terkadang badan menjadi sakit setelah misa, akibat suhu dingin ruangan gereja ini. Itulah yang menyebabkan kami kebanyakan melakukan misa mingguan di gereja Blok-B.

Meskipun sama-sama berpendingin AC di gereja Blok-B, tetapi hawa ruangan tidak sedingin di gereja sebelumnya. Mungkin karena beberapa sudut gereja adalah berlapis kayu, sehingga dingin AC dapat di serap oleh lapisan kayu ini. Pada saat kedatangan ini, kami tidak masuk ke dalam ruangan gereja. Mobil di parkir di toko sebelah gereja. Kami berjalan beberapa saat, dan tepat di belakang gereja, gua Maria ini berada.

Ini adalah gua Maria baru di gereja Blok-B. Sebelumnya, gua Maria ini berada di dalam ruangan gereja. Dengan banyaknya umat, maka timbulah ide untuk membuat gua Maria baru dan dipilihlah ruang kosong di belakang Gereja. Dan posisinya tepat di bawah pohon ringin besar, sekaligus sebagai peneduh. Ruang untuk berdoa menjadi lebih lapang, dan kerumunan pendoa tidak menganggu lalu lintas umat saat mendapatkan Hosti/Tubuh Kristus.

Saya terkesan dengan patung bunda Maria di gua ini. Tangannya lebih bebas untuk terbuka, membuka ke arah atas, seakan sedang melakukan tarian dengan lemah gemulainya. Wajahnya terbuka ke arah depan, matanya sedikit melirik kearah samping kanan. Senyum simpul kecil membuat wajahnya begitu manis. Kalo saya amati lebih dalam, pipinya agak tembem. Mirip mungkin ibu-ibu yang sudah setengah umur. Dengan pakaian jubah longgarnya ini, seakan memperlihatkan seorang Maria sebagai seorang ibu dengan keterbukaannya untuk para pendoa di depannya.

Maria ini bila di bandingkan dengan yang lainnya, seakan memang keluar dari pakem yang biasa. Tangan yang lebih bebas bergerak, bagi saya memberikan sebuah perlambang keterbukaan lebih luas. Jari2 tangan tidak merapat, memecah kekakuan yang seakan membeku memperlambangkan Maria. Wajah memberikan senyum simpul manis, menawarkan kedekatan dan hubungan persahabatan yang lebih dekat dan dalam. Hanya mungkin warnanya yang menurutku masih terkesan suram. Campuran dari bercak2 kuning dan hitam yang teraduk menjadi satu. Saya tidak tahu, mengapa pematungnya memilih campuran warna ini untuk mengambarkan Maria.

Kami berdoa tidak lebih dari 15menit, dan melanjutkan ke gereja berikutnya. (bersambung)

salah satu diorama di dinding gereja Blok-B

Advertisements

About urbantrain
Capturing Jakarta city-Indonesia with my analog photo. Enjoy it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: