perspektif lain Pasar Minggu

Melihat sudut lain dari Pasar Minggu hingga Pejaten dari bus metromini yang saya tumpangi. Sudut yang memberikan sebuah penglihatan yang sama, hal-hal biasa, dengan suatu perspektif yang berbeda. Bagaimana si pemotret lebih tinggi dari objek yang di potret. Terkadang metromini yang melaju kencang, membuat tangkapan objek oleh kamera menjadi kabur. Dimana jarak antara kamera dan objek, seakan di batasi oleh dinding kaca bus yang memberikan tatanan fokus sendiri yang berbeda. Batas pandang pun tidak hanya di batasi oleh viewfinder kamera, tetapi juga oleh badan bus yang tidak serta merta memberikan kebebasan lebih.

Tetapi bagi saya ini adalah cara memotret yang mengasyikkan. Ketika apa yang ada di depan adalah sebuah lalu lintas objek yang tak terkendali. Kita hanya memastikan dalam sepersekian detik bahwa itu adalah moment yang patut kita abadikan. Saat akan di eksekusi, sepersekian detik kita mempertimbangkan kembali apakah memang sudah pas frame yang ingin di ambil ? Begitu terbatas sudut pandang, dengan kecepatan bus yang tidak melulu konstan, dan tabir kaca bus yang memberikan hasil fokus yang berbeda.

Satu hal yang saya ambil dari beberapa kali memotret di dalam bus adalah, kesempatan kita untuk mengekspresikan ketidakinginan kita. Menurutku ini adalah sebuah keberanian untuk tetap memencet tuts shutter, meskipun kita tahu moment itu bukanlah terbaik yang kita inginkan. Suatu hal yang baru, terus dan terus di eksplore. Dan sepertinya saya mendapatkan sebuah hal baru yang begitu menarik dan memukau setelah hasilnya saya dapatkan.

Read more of this post

melintas kali Pasar Minggu

Saya menyempatkan untuk mencapture salah satu sungai yang mengalir di daerah Pasar Minggu. Sungai kecil mengalir diantara perkampungan padat di kanan kirinya. Dan terlihat antara sungai dan perkampungan padat ini tidak tampak adanya tanggul yang bisa menahan air apabila meluap. Begitu mengkhawatirkan memang. Karena sungai2 di Jakarta ini tidak akan pernah terlepas dari luapan yang setiap saat bisa mengancam warganya sebagai banjir.

Yang mungkin tampak beda dari kondisi sungai ini di banding beberapa tahun yang lalu adalah mengenai sampah. Saat saya memotret sungai ini, jarang saya temui sampah berceceran di baik di pinggir maupun di dalam sungai. Menurutku ini adalah sebuah perkembangan yang baik. Di samping itu, kiri kanan sungai terlihat rapi. Tertata dengan variasi taman2 kecil dan jalan2 tikus untuk para penjalan kaki yang ingin melintas. Hanya mungkin bau air sungai yang terkadang masih tidak sedap. Tingginya pencemaran karena limbah rumah tangga, atau limbah pabrik menjadi salah satu penyebabnya. Mengabaikan hal yang terakhir itu, saya sendiri masih dapat menikmatinya sebagai salah perjalanan piknik sungai yang begitu menyenangkan.

Ada baiknya memang, mencoba melihat sungai di ruas2 lainnya. Sehingga nantinya tampak sebuah gambaran umum bagaimana kondisi sungai si Jakarta ini. Semoga saya bisa merealisasikannya di lain waktu.

Read more of this post

PuloGadung

Sedikit foto-foto, yang saya ambil di terminal PuloGadung saat berada di atas bus, bulan Januari 2011.

Aktivitas manusia yang begitu padat. Campur baur, mulai dari para pejalan kaki, pedagang, tukang ojek, pak Polisi, dan keributan berbagai kendaraan bermotor di sepanjang jalan. Salah satu terminal besar yang berada di kawasan timur Jakarta. Salah satu reservoir, menampung hilir mudik warga Jakarta yang berada di daerah timur, baik yang menuju ke dalam kota, maupun yang akan keluar dari Jakarta. Dan sepertinya tidak ada yang berubah dari terminal ini sejak beberapa tahun kebelakang.

Saya tidak begitu paham dengan perencanaan di area timur Jakarta ini. Yang mungkin sekilas dapat saya lihat dan pahami, bahwa perkembangan dan pertumbuhan pesat area ini ternyata tidak di barengi dengan penataan salah satu terminal besar ini. Suasana masih begitu kusut, dan arus lalu lintas baik yang keluar masuk, ataupun yang berada di luar untuk melintas begitu semwrawut sehingga menimbulkan kemacetan parah.

Tidak ada perencanaan jangka panjang yang terlihat mampu untuk mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang yang akan menggunakan terminal ini. Terutama dalam penyediaan ruang baik utk para penumpang dan angkutan, kelancaran akses baik ke dalam maupun keluar, fasilitas pedukung yang cukup seperti penataan para pedagang, ruang2 hijau, dll. Yang mungkin bertambah adalah adanya akses busway yang sudah ada di terminal ini (sayang tidak ada fotonya).

Melihat kondisi ini, kita dapat sedikit menyimpulkan bahwa tanpa adanya perbaikan signifikan pada terminal besar PuloGadung ini, kondisi akan lebih parah untuk beberapa tahun ke depan. Sebagai penikmat Jakarta, saya akan lihat gebrakan dari pemkot mengenai ini. Semoga.

Read more of this post

tangan-tangan terentang

Kehidupan kaum urban di Jakarta seperti sebuah lalu lalang seseorang dlm perjalanan yang tidak pernah ada habisnya. Berputar, berjalan, berlari, dari satu tempat ke tempat berikutnya. Mengais rejeki, sedikit demi sedikit, untuk tetap mempertahankan hidup dari hari ke hari. Badan mereka menghitam, sengat matahari yang begitu panas membakar kulit ari pelindung mrk. Bercak-bercak hitam karbon, dari asap knalpot di jalanan menjadi kosmetik keseharian yang tidak begitu di pedulikan. Badan mengeras tergempur oleh perjuangan sehari-hari adalah tuas untuk memantapkan langkah mereka menembus cuaca, iklim yang tidak bersahabat. Mata-mata nanar kelelahan, adalah simbol-simbol sesaat bahwa apa yang mereka perjuangan telah masuk ke dalam sisi eksistensi mereka yang terdalam untuk sesaat mrk renungkan. Dan tangan2 terentang inilah yang menjadi sebuah tanda, bahwa mereka masih ada dan terus berjalan.

Tangan mereka terentang ke depan, memegang atap pintu sehingga tubuh mereka tetap stabil dari goncangan kereta yang akan membawa mereka menuju tujuan. Gurat2 otot menonjol keluar, terlihat kentara di tangan tersebut. Mereka terbiasa untuk bekerja keras, sehingga otot2 menegang dan sekaligus menonjol keluar. Terdiam, saat kereta terus beringsut maju. Memandang ke depan, melihat kelebat pemandangan di luar yang sudah mereka hafal tiap detilnya. Ribuan kali mereka melewati jalan yang sama. Tiada kebosanan, yang harus di singkirkan. Sebab mereka harus melewatinya, untuk tetap mempertahankan hidupnya dari hari ke hari.

Read more of this post

Stasiun Depok Baru

Puluhan kali saya melewati stasiun ini. Dan sejak beberapa tahun kebelakang, stasiun ini seakan tetap seperti semula. Tidak ada yang berubah baik dari bentuk bangunan, sirkulasi penumpang di stasiun, tempat2 pedagang berjualan, hingga aksesnya menuju ke jalan besar. Mungkin yang bertambah adalah, adanya mall besar tepat di depan stasiun, yang membuka aksesnya juga menuju ke stasiun.

Apabila di lihat lebih seksama, stasiun ini adalah stasiun ideal yang bisa saya gambarkan. Antara stasiun, terminal bus & angkot, pusat perbelanjaan/perdangangan, dan akses ke dalam kota Depok berada pada area yang sama. Begitu juga antara poros Bogor – Jakarta, stasiun ini berada di tengah2nya. Sehingga sebenarnya sudah selayaknya bila stasiun ini harus di kembangkan, dan di bangun menjadi stasiun besar ke depannya. Yang dapat mengangkut ribuan hingga jutaan penumpang setiap harinya.

Beban Jakarta untuk menampung para pendatang yang berjumbel mengais rejeki, seakan sudah tidak mampu lagi menampung pada batas normalnya. Kepadatan jalan raya sudah melampui beban jalan yg ada. Tumbuhnya perumahan2 dan gubuk2 di bawah standar semakin memperkeruh Jakarta sebagai megapolitan ke depannya. Mungkin salah satu solusi adalah mengembangkan kota-kota satelit di sekitar Jakarta, seperti kota Depok ini. Tetapi dengan minimnya infrastruktur, yg di dapat malah bukan solusi yang layak. Terciptakan problem2 baru yang semakin berat, sebagai contoh masalah transportasi ini.

Pada hari-hari kerja biasa, kondisi stasiun begitu berjubel dengan ribuan manusia yang ingin terangkut menuju ke tujuan baik ke arah Bogor menuju Jakarta. Penumpang berjumbel, saling dorong, dan himpit2an di gerbong kereta yang memang terbatas. Terkadang, kecelakaan tidak bisa di hindari. Penumpang yang duduk tepat di pintu yang tidak bisa di tutup, terlempar keluar karena desakan dari dalam. Atau sering kali terjadi pelecehan seksual, karena begitu dekatnya antara penumpang laki2 dan perempuan. Kaum hawalah yang akhirnya mendapatkan kerugian di sini. Dan salah satu yang sampai sekarang tidak bisa di tertibkan adalah penumpang yang naik sampai ke atap gerbong. Disamping karena keterbatasan tempat di dalam gerbong, juga karena ketidak tertiban mereka untuk menggunakan alat transport ini sebagai mana mestinya. Akibatnya sungguh begitu mengenaskan. Beberapa terjungkal dari atas, karena tidak berhati2. Dan beberapa lainnya musti terpanggang kena strum tegangan listrik yang tinggi.

Para investor swasta sepertinya lebih menyukai untuk membangun jalan2 tol, karena secara hitungan matematis akan untung lebih cepat dan lebih besar. Hanya akan tetap, problem transportasi di Jakarta tidak akan pernah mendapatkan solusi yang memadai. Titik pangkal problem tidak pernah di utak-utik, karena memang tidak menguntungkan. Inilah PR kita bersama sebagai warga negara untuk memikirkan hal ini. Tanpa sebuah kesadaran berbangsa yaitu mengutamakan kepentingan yg lebih luas, daripada sekedar keuntungan financial yang cepat dan besar, kepetingan publik akan tetap terabaikan.

Read more of this post

Buku Pandi – Depok Baru

Saya mendapat kiriman sms dari Pandi. Dia mengabarkan kalo koleksi buku2nya bertambah, dan saya di minta ke kios bukunya apabila ada yang menarik minat untuk di beli. Maka sore itu saya bergegas, naik kereta listrik ekonomi dari Pasar Minggu menuju stasiun Depok Baru.

Sore itu hari agak temaram. Di samping sudah sore, sedikit mendung masih mengelanyut di kota Depok. Kereta listrik atau KRL yang saya tumpangi tidak begitu penuh berjejal, karena hari itu sabtu. Saya masih ada kesempatan untuk memotret suasana di dalam gerbong kereta. Nanti mungkin saya ceritakan di lain kesempatan. Stasiun Depok masih ramai. Pedagang2 masih ramai, menunggu barang2 dagangan mereka di beli para penumpang. Bermacam-macam barang dagangan dapat kita temukan di sini. Apabila cocok, di beli. Kalo tidak hanya untuk pemanis di mata.

Penumpang pun seperti arus yang tiada kenal henti. Puluhan turun, dan puluhan kemudian naik. Anak2 kecil bergerombol. Terkadang mereka naik bergegas. Naik ke atas atap kereta seperti monyet2 kecil yang asyik bermain di dahan pohon. Ibu2 mengandeng anaknya. Jangan sampai terlepas, dan sulit di temukan kembali. Bapak2 membawa bakul2 atau tentengan barang. Sepertinya dagangan2 yang di coba di sirkulasikan ke daerah kota sana.

Kios buku Pandi tidaklah besar. Kios ini berada di sepanjang kios2 di stasiun Depok Baru di sebelah dalam. Ukurannya bujur sangkar, sekitar 3×3 meter. Penuh berisi buku, mulai dari majalah-majalah populer musik, perumahan, olah raga, kuliner, fotografi, dll. Novel2 indonesia dan asing, buku2 pegangan mahasiswa seperti teknik, psikologi, ekonomi, arsitektur, dan beragam yang lain. Buku2 umum yang bisa di dapatkan dengan harga miring, karena memang buku bekas. Yang pasti dapat di tawar dengan harga yang wajar.

Karena memang sudah lama kenal, kami ngobrol sebentar. Biasanya saya tanya dia mengenai buku2 yang memang sedang saya cari. Apabila sekarang buku tsb tidak ada, di lain kesempatan mungkin dapat. Dia akan menginformasikan apabila buku yang saya cari di dapatnya. Buku yang biasanya saya cari adalah buku filsafat atau mengenai fotografi. Dulu masih banyak buku2 mengenai 2 tema ini. Tetapi belakangan, semakin sulit mendapatkannya. Kecuali mungkin ada beberapa kolektor, atau peminat buku yang sudah lanjut, setelah mereka meninggal buku2nya akhirnya di lego oleh keluarga mereka.

Selain di stasiun Depok Baru ini, Pandi mempunyai 2 tempat lagi di mana dia berjualan buku. Di Blok M Square, yang sekarang adalah pusat penjualan buku-buku bekas di lantai basement, dan di stasiun Tebet. Dia menjalankan bisnis buku ini di bantu oleh beberapa rekannya. Hanya saya tidak begitu detil menanyakan bagaimana pembagian kerja dan keuntungannya. Pastinya mereka bergilir untuk menjaga ke-3 tempat jualan buku ini. Dia juga pernah berjualan di stasiun Pondok Cina Margonda, sekitar kampus UI dan Gunadharma. Tetapi akhirnya dia menutup kiosnya, karena kalah bersaing dengan kios lain yang memiliki modal lebih besar. Lebih baik mengalah untuk mencari daerah lain, dimana secara kompetisi masih longgar.

Buku2 yang dia dapatkan beberapa memang diperoleh dengan mencari sendiri langsung ke perumahan2 apabila memang si pemilik mau menjualnya. Dan beberapa di peroleh dari orang2 yang langsung datang, untuk menjual beberapa buku miliknya. Buku2 yang menjadi pegangan mahasiswa, novel2 populer, biasanya juga sudah di pesan oleh para penjual di daerah Kwitang. Jadi seperti sebuah jaringan yang begitu luas antar para pedagang ini. Yang saling berkaitan, untuk sama-sama mengais rejeki dari bisnis berjualan buku ini.

Beberapa calon pembeli tampak membolak balik, dan memilih buku yang mereka butuh dan inginkan. Konsen dengan tema2 yang menarik perhatian mereka, dengan membaca beberapa kalimat, melihat visual di dalamnya, dan mendapatkan ketertarikan dari susunan kata dan gambar secara langsung. Dan mereka pun mendapatkan keuntungan, dengan melihat isi dalam buku itu secara langsung. Lihat saja sekarang, di toko2 buku besar, buku sudah tertutup oleh bungkus plastik. Calon pembeli menjadi tidak leluasa untuk melihat isi buku tsb, karena dilarang untuk membuka tutup plastiknya. Jadi terkadang membeli buku di toko besar, adalah gambling. Resikonya di ambil sendiri, apabila sisi bukunya tidak sesuai keinginan. Harga di sini bisa di tawar, sehingga dapat harganya sungguh miring.

Saya mendapatkan beberapa buku yang saya inginkan. Kemudian saya pulang, balik memakai kereta kembali ke arah Pasar Minggu.

Read more of this post

9 Gereja – Jakarta (8)

Ini adalah gereja terakhir dari penziarahan kami. Gereja yang lumayan jauh, karena berada di daerah selatan. Gereja keluarga kudus, Pasar Minggu.

Perjalanan kami ke gereja ini di selingi dengan hujan yang turun begitu derasnya. Saking derasnya, jarak pandang mulai berkurang hingga cuma antara 5-10 meter saja. Dan yang pasti, air mulai naik, menyebabkan banjir lokal di jalanan. Tetapi untunglah kami bisa melaluinya, dan selamat hingga sampai tujuan. Saat kami sampai, hujan sudah berhenti. Hanya suasana masih terasa gelap, karena mendung masih menyelimuti di sekitaran kami. Lantai masih basah, dan musti berhati-hati karena licin. Jangan sampai jatuh.

Seperti gereja di Blok-B, gua Maria ini masih tergolong baru pembangunannya. Karena dulu masih berada di dalam gereja. Kemudian dengan bertambahnya umat, dan kebutuhan untuk suasana yang lebih lapang untuk berdoa, maka di bangunlah gua Maria ini di luar gedung gereja. Sekarang ruang untuk berdoa menjadi lebih lebar. Para peziarah, dan umat pendoa dapat lebih merasakan ruang yang lebih lapang, teduh, damai dengan ketenangannya.

Dan memang, bagi saya sendiri gereja Pasar Minggu adalah gereja yang begitu tenang. Meskipun berada di daerah Pasar Minggu yang ramai, dan bising. Gereja ini seperti oase di padang gurun kebisingan yang luas. Saya terkadang begitu aneh merasakan hal ini. Seperti sebuah filter yang mampu menyaring dengung keresahan di luar. Diantara pepohonan rindang yang memberikan keteduhan, saya dapat merasakan ketenangan yang begitu dalam di sini.

Inilah sedikit foto2 di gua Maria Keluarga Kudus, Pasar Minggu.

Read more of this post