Jembatan Layang Kalibata

Suasana saat pembangunan jalan layang di Kalibata. Saya ambil di kisaran bulan Juli 2010. Begitu ramai, karena pembangunan ini pasti akan menganggu sebagian dari ruas jalan Kalibata. Jalan menjadi sempit, dan kondisi jalan menjadi rusak karena alat2 berat yang melewati dan mencacah jalan untuk tiang2 pancang dari jembatan layang ini. Kemacetan menjadi tidak terhindarkan. Kendaraan bermotor baik mobil maupun roda dua musti berjajar antri utk bisa lewat. Pejalan kaki, menggunakan trotoar di pinggir jalan sehingga mereka dapat lewat. Orang2 di pinggir, tampak asyik menonton pekerjaan ini. Seperti sebuah tontonan yang asyik mereka lihat, dan kagumi.

Beberapa pekerja masih sibuk dalam proses pembangunan. Tampak beberapa berada di pancang2 beton untuk mempersiapkan pengecoran yang akan mereka lakukan. Beberapa tampak di bawah. Menjadi pioner untuk pekerjaan2 lain yang di kerjakan secara pararel.

Inilah mereka itu.

Read more of this post

Kampung di Kalibata

Ini adalah perkampungan di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Seperti perkampungan2 yang lainnya di Jakarta, yang padat,berjejal, menempati ruang2 yang ada meskipun daerahnya berada di cekungan yang rawan terhadap banjir. Memang ini akan sangat rawan, karena beberapa meter masuk ke perkampungan, akan kita temui ruas sungai yang membelah antar perkampungan. Apabila sungai meluap, banjir akan menggenangi perkampungan ini.

Waktu itu saya hanya melintas, dan mengambil foto dari jalan besar yang berada di atas perkampungan. Genteng-genteng merah, mendominasi dari selayang pandang kita ke depan. Tembok2 gedung, bervariasi seakan timbul selang-seling diantaranya. Hanya sedikit tampak, bahwa jalan di kampung ini sudah di semen atau beton. Sehingga tampak lebih tertata dan teratur, dan menyiratkan nuansa bersih.

Read more of this post

Stasiun Kota ke Glodok

Jalan dari Stasiun Kota menuju ke Glodok. Kota yang berangsur tua, dan tetap, keramaian terus membisingkan telinga. Beberapa sudut, bangunan-bangunan telah mati. Reruntuk bangunan kusam, tak terawat, dan di tinggalkan. Tanda kejayaan masih nampak, meskipun hanya meninggalkan masa lalu yang mulai di lupakan. Di ganti bangunan lain lebih modern di blok berbeda pada area yang sama.

Area ini adalah area Pecinan. Di mana masyarakat Tionghoa sebagian besar menghuni daerah ini, dan membuka bisnis mereka. Di mana masyarakat Jakarta, menopangkan beberapa kebutuhan primer dan sekundernya dapat dipenuhi disini. Baik itu perangkat elektronik, pakaian, makan, dan pemenuhan kesenangan pribadi yaitu diskotik, perawatan kecantikan, dll.

Adanya pusat stasiun kereta dan pusat Busway, mempermudah akses transportasi ke daerah ini. Karena itulah, daerah ini begitu ramai. Tidak hanya saat hari biasa. Saat hari libur, sabtu dan minggu, kondisinya akan sama. Tetapi beberapa beberapa gang yang saya foto nampak sepi. Karena memang, keramaian tidak merata di sepanjang area ini. Ada tampat2 dimana keramaian akan sangat nampak, tetapi di sisi lain keheningan akan tampak pula.

Read more of this post

sekilas di atas Jakarta

Memandang Jakarta dari atas. Gedung-gedung tinggi tegak terpancang kuat ke tanah. Seperti sebuah keangkuhan tersendiri yang bisa kita rasakan. Melihat di sela-selanya, adakah mungkin yang terjepit oleh sang sombong ini. Dan bisa kita lihat, beberapa perkampungan penduduk berada di sela-sela. Genteng-genteng berwarna coklat masih terlihat, dengan warna hijau yaitu pohon yang hidup di antaranya.

Manusia begitu kecil. Begitu kecil saat mereka berjalan di bawah. Kemudian terlihat mobil2 yang berseliweran juga kendaraan roda dua ngebut mengejar setoran. Pancang-pancang gedung yang tidak terbandingkan dengan makhluk hidup yang menyelip di antaranya. Dengan warna biru mayoritas, menyatu dengan warna langit yang begitu cerah siang itu.

Inilah pemandangan Jakarta. Setelah krisis ekonomi di tahun 1997, Indonesia mulai membangun kembali ekonominya. Sektor infrastuktur mulai mengeliat kembali. Investasi di tanamkan dengan pembangunan gedung2 tinggi untuk menyiapkan lahan-lahan perkantoran bisnis, mall sebagai arena rekreasi, makan, dan tempat berkumpul, dan juga area lahan huni berupa apartment dan hotel. Dan ini adalah pemandangan di salah satu area. Masih banyak area yang lain yang berada dalam tahap pembangunan. Dengan tiang2 pancang yang lebih banyak, lebih lebar, dan lebih tinggi.

Jakarta mulai berbenah, sebagai salah satu megapolitan tersibuk dan teramai di kolong jagat rasanya. Hanya pembangunan yang begitu pesat tersebut apakah juga di nikmati oleh sebagian masyarakat yang hidup dalam rentang ekonomi lemah di dalamnya ? Ketika pembangunan kemudian hanya memberikan kontribusi pada sebagian kecil masyarakat. Pemerataan tidak memberikan hasil yang maksimal. Distribusi kemakmuran macet di tengah alirannya. Sebuah ironi saat kemakmuran yang begitu tinggi akhirnya menjadi kesenjangan tersendiri.

Read more of this post

perempatan Matraman

Di perempatan Matraman Jakarta. Hari begitu panas. Kulit terasa terbakar, meskipun badan sudah tertutup oleh jaket. Panas dari motor yang berjubel makin menambah. Asap CO menguap, membuat mual. Masuk ke dalam otak, menjadi genangan racun yang entah kapan akan membunuh tubuh rentan ini.

Inilah Jakarta. Di negara tropis yang masih sibuk mengurus sarana transportasi yang tak kunjung selesai. Mungkin hanya butuh waktu saja. Sehingga segalanya akan menjadi lebih baik nanti.

Pasar Baru

Suasana Pasar Baru begitu ramai. Mungkin bukan seperti pasar yang biasa kita kita duga seperti pasar2 tradisional yang lain. Pertokoan2 modern berderet memberikan senyuman kepada calon pembelinya. Dari toko-toko elektronik, tekstil, sepatu, mall, hingga layanan fastfood ada di sini. Pedagang kaki lima dahulu banyak yang mengelar lapak, hanya sekarang tambah sedikit. Mungkin lebih di tertibkan.

Ada salah satu tempat di lokasi lama areal Pasar Baru ini menjual macam2 kamera dan aksesorisnya. Saya menyempatkan untuk membeli film expired sebagai mesiu untuk kamera analog saya.

Read more of this post

menuju Buncit Raya

Ribuan kali mungkin saya melewati jalan ini. Jalan kecil dan jalan besar di Buncit Raya pulo, Jakarta Selatan. Lalu lalang orang, untuk melakukan aktivitasnya seakan tidak pernah berhenti. Sehari-hari, jalan besar ini begitu padat di lalui kendaraan bermotor. Padat, macet mulai pagi, kemudian surut di saat tengah hari, kemudian padat lagi saat sore.

Saya memfoto saat hari sabtu, sehingga suasana tampak lengang. Kepadatan terjadi karena jalan ini adalah salah satu akses besar menuju ke pusat kota, dimana pergerakkan bisnis berputar. Salah satu akses yang di tuju adalah daerah Kuningan Rasuna Said, Menteng, Gatot Subroto, hingga Sudirman. Sehingga tidak heran, kepadatan akan terus tinggi di jalur ini.

Di samping sebagai jalan akses besar, beberapa gang kecil dan sedang menginduk pada jalan ini. Gang-gang kecil, dengan jalur berkelok, menuju kepadanya. Dan sepertinya, manusia menghidupinya layak semut. Masuk, merayap, dan menjadikan jalan2 kecil ini begitu bernuansa.

Read more of this post