Kebon Kacang sampai Tanah Abang (1)

Saya menyempatkan untuk jalan-jalan di sekitaran Pasar Tanah Abang. Salah satu pasar terbesar, sekaligus tersibuk di Jakarta Pusat ini. Ini pengalaman pertama, karena sekalipun belum pernah ke pasar ini. Meskipun mungkin beberapa kali melewatinya saat naik motor atau saat bus kota. Tetapi secara langsung, masuk ke pasar ini belum pernah sama sekali.

Saya bawa kamera kecil analog, dengan beberapa roll film expired yang saya letakkan di tas hitam samping kecil. Roll film expired ini ber-ASA 400, dan hasilnya filmnya setelah di cuci dan di scan agak “over” cahaya. Seperti terbakar. Memang asa 400 ini, terlalu sensitif cahaya, apalagi karena juga sudah expired. Tetapi tidak mengapa. Hasilnya masih bisa di nikmati, dan saya masukkan ke blog ini.

Saat memulai jalan, harinya begitu panas sekali. Matahari begitu terik, menyengat, dan kulit seperti terbakar setelah beberapa saat panas matahari itu mengenai kulit. Naik busway dari Blok M, sampai di depan Plaza Indonesia. Dari Plaza Indonesia, saya lewat jalur perumahan Kebon Kacang, terus hingga tembus ke Tanah Abang. Sekitaran Plaza Indonesia, bisa saya lihat kepadatan manusia, rumah, dan kendaraan sebagai imbas ruang umum mall tsb. Tempat makan dengan menu murah, menyemut di area ini. Kendaraan2 roda dua, ratusan terparkir di sekitaran mall. Karena sepertinya mall tidak memberikan ruang parkir di dalam gedung mall. Parkir di dalam mall hanya di peruntukkan bagi roda empat. Lahan yang seharusnya sebagai jalur jalan, terpakai seperempatnya untuk kios2 makan dan parkir roda dua. Jadi bisa di bayangkan, hal ini bisa menimbulkan kemacetan bila tidak di atur.

Jalan terus di daerah Kebon Kacang ini, melewati perumahan kalangan menengah atas, dengan jalan beraspal hotmix, teratur dan rapi. Rumah-rumah kotak, dengan sekat-sekat tembok dan pagar besi yang kuat. Terkadang gang-gang sempit, seperti alur-alur kecil yang keluar dari jalan besar yang berliku panjang masuk ke dalam. Rumah2 dengan luasan super kecil menghuni di didalam gang-gang sempit ini.

Agak sedikit kontras, bahwa antara rumah2 yg tergolong besar bercampur dengan rumah2 kecil yang nyempil di gang-gang sempit itu. Tetapi pemandangan ini bukan semacam kekusutan. Karena area ini lumayan rapi dan bersih. Sehingga mata, bisa memandangnya dengan suasana nyaman. Tetapi di daerah padat, di dalam kota, ruang bebas menjadi hal yang langka. Tak saya temui, misal lapangan, atau taman bermain di area ini. Jadi bisa di bayangkan, bahwa ruang2 untuk bermain anak, akhirnya terkonsentrasi di jalanan atau mereka bermain di dalam rumah.  Suasana kebersamaan untuk berkumpul antar warga seakan mati,  dengan kondisi ini.

 

About these ads

About urbantrain
Capturing Jakarta city-Indonesia with my analog photo. Enjoy it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: